Anggrek Ulat Indonesia Masuk Daftar Penemuan Tanaman Fenomenal 2025

Rabu, 14 Januari 2026 | 14:32:04 WIB
Anggrek Ulat Indonesia Masuk Daftar Penemuan Tanaman Fenomenal 2025

JAKARTA - Kabar membanggakan datang dari dunia botani internasional: Indonesia berhasil menempatkan satu spesiesnya dalam daftar 10 tanaman baru paling fenomenal sepanjang 2025. 

Daftar ini dirilis Royal Botanic Gardens, Kew (RBG) di London, menyoroti kekayaan hayati yang masih tersembunyi di nusantara.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Anggrek Ulat (Dendrobium eruciforme) dari Papua. Melansir Euro News, Minggu, tanaman ini unik karena bentuknya menyerupai koloni ulat berbaris di batang pohon. Ukurannya yang kecil menjadikannya spesies paling mungil dari enam spesies baru yang dipublikasikan ilmuwan Indonesia pada 2025.

Penemuan ini merupakan hasil kolaborasi antara peneliti Kew dan mitra lokal untuk memetakan area penting di Indonesia. Anggrek Ulat menegaskan pentingnya konservasi hutan Papua, rumah bagi spesies langka yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Keberadaan tanaman ini sekaligus menjadi peringatan agar ekosistem tetap dilindungi.

Di balik kegembiraan, para ilmuwan memperingatkan ancaman kepunahan. Dr. Martin Cheek, pemimpin penelitian senior tim Afrika RBG Kew, menekankan urgensi pendokumentasian spesies baru. "Sangat sulit melindungi apa yang tidak kita ketahui dan tidak memiliki nama ilmiah," kata Dr. Cheek, menyoroti peran krusial ilmuwan Indonesia.

Pohon Raksasa dan Buah Unik dari Papua Nugini

Selain Anggrek Ulat, peneliti memperkenalkan Eugenia venteri, pohon setinggi 18 meter dari Papua Nugini. Pohon ini unik karena buahnya tumbuh di batang hingga menjalar ke tanah, dengan rasa perpaduan pisang dan jambu biji serta aroma kayu putih.

Para ilmuwan menduga buah ini berevolusi untuk disebarkan tikus tanah raksasa lokal, menampilkan hubungan simbiosis kompleks antara flora dan fauna. Penemuan ini menegaskan bahwa hutan Papua dan Papua Nugini memiliki ekosistem unik yang sangat berharga dan perlu perlindungan.

Di Afrika, Plagiosiphon intermedium, pohon raksasa keluarga kacang-kacangan, ditemukan di hutan hujan Kamerun. Beratnya mencapai 5.000 kilogram dengan diameter batang 66 sentimeter. Meski masif, pohon ini berada di area tanpa perlindungan hukum, sehingga penemuan ini membawa harapan sekaligus kekhawatiran konservasi.

Jamur Zombie dan Bunga Iblis Api yang Mencengangkan

Daftar penemuan 2025 tidak hanya berisi flora yang indah, tapi juga spesies unik seperti jamur Purpureocillium atlanticum dari Brasil. Dijuluki "jamur zombie", spesies ini menginfeksi laba-laba pintu jebakan, menutupi tubuhnya dengan miselium hingga mati, lalu memunculkan tubuh buah untuk menyebarkan spora.

Sementara di Peru, Aphelandra calciferi atau "Bunga Iblis Api" memukau dengan warna oranye kemerahan dan kuning cerah. Nama Calcifer diambil dari karakter iblis api film animasi populer Howl’s Moving Castle. Tanaman ini memiliki potensi sebagai tanaman hias, tetapi harus dijaga agar tidak dieksploitasi secara komersial.

Fenomena ini menegaskan betapa keragaman hayati di berbagai belahan dunia dapat terlihat luar biasa sekaligus mengerikan. Penemuan-penemuan unik ini meningkatkan pemahaman ilmuwan tentang ekosistem tropis dan peran spesies dalam rantai kehidupan.

Keunikan Batu Hidup dan Palem Natal Terpencil

Selain itu, Lithops gracilidelineata subsp. Mopane dari Namibia menjadi sorotan karena kamuflasenya seperti kerikil di hutan. Meskipun terlihat seperti batu, tanaman sukulen ini bisa berbunga cantik mirip bunga aster. Popularitasnya sebagai tanaman hias justru mendorong risiko kepunahan karena pengumpulan ilegal.

Dari Asia Tenggara, Filipina menyumbangkan Adonidia zibabaoa, palem berbuah merah setinggi 15 meter di Pulau Samar. Spesies ini mirip Palem Natal, sehingga identifikasinya menantang. Melalui analisis DNA, RBG Kew memastikan keunikannya dan menekankan perlunya perlindungan karena habitatnya sangat terbatas.

Penemuan ini mengingatkan bahwa setiap spesies baru tidak hanya menambah pengetahuan ilmiah, tapi juga menegaskan tanggung jawab manusia menjaga ekosistem unik yang mudah terancam.

Konservasi dan Masa Depan Keanekaragaman Hayati

Masuknya Anggrek Ulat Indonesia ke daftar fenomenal menyoroti pentingnya konservasi. RBG Kew dan mitra lokal membuktikan bahwa kolaborasi internasional dapat memetakan flora langka dan memberikan dasar ilmiah untuk perlindungan.

Dr. Martin Cheek menegaskan, mendokumentasikan spesies baru penting di tengah percepatan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati. Upaya ilmuwan Indonesia menjadi kunci dalam menjaga harta karun flora nusantara agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Penemuan 10 spesies fenomenal 2025, mulai dari Anggrek Ulat hingga Bunga Iblis Api, menegaskan bahwa dunia masih menyimpan banyak misteri alam. Setiap penemuan membawa kesempatan dan tanggung jawab: mengenal, melestarikan, dan menghargai keanekaragaman hayati yang menjadi identitas planet ini.

Terkini